FASTING MONTH, MOM’S VIEW

We’ll be having the first day of fasting month is less than a week. Monday, I suppose. Btw, kenapa namanya fasting month sih? Are you fasting? Do you fast? Ada hubungannya ama cepat nggak? Tapi di sini kedudukannya sih sebagai kata kerja. Tar saya liat dulu di kamus…..

He’eh tuh, fast kalau kata kerja artinya abstain from eating. Abstain? Abstain sendiri artinya apa, haha…. Dulu kalau milih-milih ketua sesuatu kan selalu ada yang abstain, alias golput. Liat lagi ah….

Ternyata artinya refrain, usually from pleasurable action. Berarti sengaja dilakukan ya, bukan tidak makan karena gak ada makanan….

Kalau dipikir-pikir, enakan dulu waktu kecil ya nuansa bulan puasa dan hari raya. Ada asa dan pengharapan di sana, haha…. (maksudnya kalau dilihat dari kacamata manusia lo).

Pas udah emak-emak, ritual menjadi emak-emaknya itu lo yang nggak enjoyable. Harus memikirkan menu buka dan sahur hari ini, ngebujuk2 anak yang susah buat makan sahur, mikirin oh iya baju koko anak2 kayaknya udah waktunya diganti, nyediain baju lebaran buat anak2 dan yang lain-lain, oh iya kueh belum. Halah….

Apalagi semenjak saya pindah ke Lampung dan Bogor ini (lhah, kan waktu masih di Malang belum jadi emak-emak? oh iya ya…). Menurut saya orang-orangnya jauh lebih konsumtif, baik untuk makanan, pakaian, perabotan atau pernak-pernik yang lain.

Dulu saya tumbuh di kampung yang kampung banget. Udah kampung miskin lagi. Tapi miskinnya sekampung, seandainya pun ada yang kaya gak jauh-jauh lah ama yang miskin, itupun jumlahnya gak banyak.

Terus abangan lagi. Sekampung paling beberapa persen aja yang puasa di bulan puasa (apalagi puasa ketika bukan bulan puasa ya?).

Dulu saya enjoy waktu bulan puasa karena nggak harus puasa, tapi lebaran tetep makan kue-kue….. haha….. Alhamdulillah sekarang dah tobat 😉

Baju baru waktu lebaran nggak selalu dapat, tapi tetep aja fun….. Makanannya (kue ataupun lauknya) pun gak ada yang istimewa (kalau ngeliatnya sekarang sih) tapi bagi saya waktu itu mah udah luar biasa banget.

Coba saya kecilnya sekarang ya…….. Atau saya kecil terus…… jadi asik terus….

 

Advertisements

KULIHATGADIS ITU….

Kulihat gadis itu

Duduk dengan pengawal yang selalu ketat menempelnya

ke manapun dia pergi

kupandangi dia

wajahnya yang manis menggemaskan

mata indahnya berbingkai kacamata

membuatnya terlihat cerdas dan semakin manis

(aku tak tahu kenapa, dari dulu aku selalu suka gadis berkacamata)

Senyumnya yang merekah

 

Dia balas memandangiku

Senyumnya melebar

Hatiku tersenyum untuknya

Tapi tidak dengan bibirku

Aku tak tahu kenapa, tetapi kedua sudut mulutku terkunci

Mataku terkunci di matanya

 

Betapa inginku dia tahu

Betapa aku memujanya

Memikirkan dan menginginkannya setiap waktu

Berharap sesering mungkin bisa berjumpa dengannya

Tapi rupanya bahkan mataku pun tak pandai menyampaikan pesan

Senyumnya menghilang

Gadis manis, kembalikanlah senyum itu ke bibirmu

Biar bisa kunikmati wajah manismu lebih lama

 

Tidak sukakah dia padaku?

Tapi mata kami masih terkunci di sana

Serasa waktu berhenti

Apakah sudah berpuluh-puluh menit

Aku dan dia seperti itu?

Ataukah baru beberapa detik saja?

Aku tak tahu pasti

 

Kami baru tersadar ketika

Sang pengawal mendesis dan menggerutu padanya

Dan membawanya pergi

Dia pun berlalu

 

Duhai gadis manis, betapa jauh kau dariku

Dapatkah  aku merengkuhmu, pada masa yang datang nanti?

 

BETAPA AKU BENCI PEREMPUAN ITU!

betapa aku benci perempuan itu!

benci melihat cantik wajahnya

benci melihat putih kulitnya

benci melihat rona bahagia di mukanya

benci melihat semburat merah di pipinya

lebih benci lagi aku pada bekas merah di lehernya

benci sekali!!

 

Dan dia bahkan tak tahu apa masalahku

Dia tak pernah tahu aku sangat membencinya

Memupuk rasa tak nyaman ini sekian lama

 

Apakah dia lebih cantik dariku? sepertinya

Apakah kulitnya lebih putih dariku? Jelas. Kulitnya serupa susu. Kulitku, serupa susu juga, tapi susu campur kopi

Apakah dia lebih pintar dariku? Aku tak tau. Mungkin

Apakah keluarganya lebih baik dariku? Menurutku ya. Itu mungkin salah satu alasan dia memilihnya

Dia bahkan tak tahu aku sangat membencinya

Di depannya, aku selalu merusaha menampilkan senyum ramah terbaikku

Pura-pura ikut menggodanya, walaupun sebenarnya aku sama sekali tak ingin

Yang membuatnya semakin tersipu, dan damn! Semakin cantik saja keliatannya

 

Amboi pengantin baru, betapa bahagia kau tampaknya

Kau tak tahu, aku semakin patah hati melihatmu begitu

 

MOMMY SHOULD HAVE BEEN HERE TODAY

Mommy should have been here today

getting the school report from my homeroom teacher

Mommy should be here this Tuesday

to see my sister on her graduation party

But she is not here

and she will never be

Because she went away yesterday

to see God

and decide not to come back

Mommy, we miss you already

will we meet again soon?

I ONCE HEARD (OR READ) THIS WORD …..

Pertama kali denger (eh baca ding) kata Ranu Pane itu di ‘Roman Sacuil’ cerita pendek di majalah berbahasa Jawa Jaya Baya. Nggak kebayang sama sekali di mana tempat itu. Nggak tau juga bahwa Ranu artinya danau. Padahal itu bahasa jawa. Dan saya (ngakunya) orang Jawa tulen. Kok bisa nggak tau ya? Kayaknya karena sebetulnya saya orang Jawa palsu, hehe….. orang Jawa tapi bahasa yang dipakai sehari-hari nggak sama ama bahasa  Jawa ‘standar’ yang piye-piye itu. Saya kan Jawa yok opo-yok opo, hehe…..

Sampai sekarang juga belum terbayang Ranu Pane itu lokasinya di mana. Di kaki gunung Semeru. Masalahnya gunung Semeru tuh di mana? Jawa Tengah apa Jawa Timur? Sampai sekarang belum punya sense buat ngebedain yang mana gunung Semeru, gunung Merapi (yang ini ‘agak’ tau karena meletus itu), gunung Galunggung atau gunung Merbabu.

Trus dulu waktu baca Jaya Baya tuh, mindset saya itu penulisnya pasti orang-orang Jawa Tengah (karena pakai bahasa Jawa ‘betulan’ itu) dengan setting Jawa Tengah juga. Ternyata banyak dari mereka yang orang-orang Jawa Timur juga (eh, ngomong2 Jaya Baya tuh diterbitin di mana ya?). Cuman memang Jawa Timur Blitar, Kediri, Tulungagung, Trenggalek yang ngomong hari2nya memang piye2 juga. Settingnya pun di kereta, di kampus (biasanya IKIP Blitar atau Kediri atau Malang), tempat kos, temanya tentang mahasiswa buat SP-Satpel-Satuan Pelajaran (kalau sekarang RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang dulu saya sama sekali nggak nyambung apa itu.

Trus frasa ‘anjing siah’ dan ‘maneh anjing’ yang pernah saya baca di salah satu cerpen dan entah kenapa tetap nempel di kepala (menurut saya itu keren, haha….) hingga berbelas2 tahun kemudian (kayaknya karena penasaran nggak tau artinya dan nggak ada yang bisa dijadikan referensi ), tadinya saya mengira itu bahasa Batak atau apa. Ternyata bahasa Sunda. Ahaha….

 

MASA-MASA YANG PENGEN DAN TIDAK PENGEN DIULANG….

Dengerin lagu-lagu Iwan Fals sambil di kamar sendirian…… Wah…. Serasa SMP lagi. Kayak waktu kuliah juga, kalau lagi pulang. Mbak Sri udah kerja di Kalimantan, Cacak udah kerja di Pasuruan, trus ketika berhenti daftar polisi, diterima, n pendidikan di Banyubiru.

Ada lagu “Jendela Kelas” inget waktu tergila-gila ama Dovic, haha….
Ngelamun, mata tak pernah lepas dari jendela kelas(atau pintu kelas walaupun terbuka sekecil apapun), menunggu dia lewat, entah ke kamar mandi (yang pas ada di depan kelas 2 A41, dan dia gak pernah enggak pasti ke kamar mandi, seringnya sih gak sekali, trus dia duduk2 di depan kamar mandi ama Ecen atau Widiasto, hmmmm….), atau ke kantin, atau ke kantor guru, atau mondar-mandir yang lain yang ga jelas (soalnya ga tau dan ga nanya, gimana mau nanya orang ga kenal…)
Ada masa-masa waktu SMP, SMA atau kuliah yang pengen kita ulang, kita serap, kita nikmati lagi….
Tapi banyak masa-masa di situ juga yang gak pengen sama sekali mau kita inget, boro2 mau diulang, dan begitu bersyukur kalau sudah bisa menengok ke belakang dan berkata ‘I was there once…., but not now….’

Coba kita inventarisir:

Masa SMP
Yang pengen diulang: main2 ke rumah kawan, bilang ‘iya’ ke A, haha…, jajan di kantin belakang, jajan di warung lik Min (tapi kayaknya sekarang dah pada ga ada ya), lebih menggali kemampuan (kayaknya bisa deh lebih maksimal hasil kalau dulu belajarnya bener), lebih asertif.
Yang ga pengen diulang: jalan malem2 pulang sekolah lewat sadranan, atau berangkat pagi2nya, sekolah kalau lagi Jum’at Legi (nelongso tau!), miskin jadinya ga bisa jajan ga bisa beli sepatu atau tas yang diinginkan, boro2 itu kamus aja ga kebeli)

Masa SMA
Yang pengen diulang: ngeliat Dovic lagi, haha…. walaupun endingnya tetep sama rela kok…., ngocol2an ama Mudah Prie Saras lagi, diskusi sastra di kelas pak Huda tapi mau super aktif, belajar bahasa Inggris ama bu Nuning, nginep di rumah Mudah, nekad ‘jalan’ ama Joko… ;), lebih kenal ama Aris, liat mas Andis sama Emir main basket lagi….
Yang ga pengen diulang: ketemu Dyah ….:(, merasa jadi nobody di kelas (apalagi waktu udah ga sekelas ama trio wek2 yang diceritakan di atas), belajar geografi (tapi kalau yang perbintangan itu mau), pensi (tapi kalau liat si sobir jadi bencong itu mau)

Masa kuliah
Yang pengen diulang: bilang suka ama Sam, haha…, ngelaba… ;), lebih deket ama dosen, ‘nekad’ ambil skripsi, lebih ‘bener’kuliahnya, PMII (aaaaa…..!!!) , ngaji yang lebih bener, lebih aktif di organisasi (ternyata sebetulnya saya mampu n ga semenakutkan yang dibayangkan), ‘jalan’ ama Alvin, bilang ‘yes’ n ngga mikir dia adik kelas dan lebih muda walaupun cuman beberapa hari, jalani aja…), rihlah sebanyak2nya ama temen2 PMII, haha….
Yang ga pengen diulang: ketemu temen2 bahasa Inggris yang intimidating, ga punya duit jadi ngutang terus ama Emy (nanti ke rumah Emy bayar utang ah….)

Kalau dipikir-pikir kok dari tadi yang mau diulang malah banyak yang jelek-jelek n genit-genit ya….. Untung waktu nggak bisa diulang, kalau bisa kali saya malah jadi cewek ,nakal’ kali ya, hehe….

Happy Anniversary for me!

Today’s our eleventh anniversary……

Feels just like yesterday…. the first time we met, how we got acquainted for quite a short time……. how he promised my father to take care of me and my children…….

I loved him for for the first time because of his huge sense of humor, and now I love him for everything he is, aside that he still has tons of it.

He cares for the ones he loves…………..

Love you Abang, love you for everything we did together, love you for everything we’re gonna do together………………..

Unorganized-me

Saya orang sangat tidak ter-organized. Juga bukan orang yang bisa rapi secara konsisten. Saya orang-nya sangat moody, angin-anginan.

Semua hasil kerja saya, baik secara personal, ataupun yang berhubungan dengan persekolahan,  perdinasan, dan perumahan (maksudnya yang berhubungan ama rumah) sangat tergantung pada mood saya saat itu.

Jadi ada saat-saat ketika saya duluan ngerjain sesuatu, apakah itu perangkat pembelajaran, materi, peraga, atau hal-hal sejenis itu. Tapi banyak juga saat-saat ketika udah pertengahan semester dan ketika ditanya ‘udah beres bikin perangkat belum? materi ini nanti mau pakai apa?’ dan jawabannya adalah ‘belum. huh? materi apa?  belum kepikir…’

Ada saat-saat ketika meja kerja saya di sekolah rapi sekali, dengan sandaran buku yang berfungsi dengan ‘benar’ (ada buku yang disandarin)….. trus semua file masuk ke tempatnya masing2…..

Tapi kalau sebulan lagi anda melihat meja yang sama, mungkin yang ada adalah segala macam sampah-sampah gak jelas… yang semakin diliat semakin tidak enak dipandang….  Buku-buku kawan, koreksian yang dah beres dikerjain tapi belum dimasukin daftar nilai….. undangan-undangan notice-notice dari sekolah yang dibuang sayang (takut suatu saat diperluin) tapi menuh2in tempat……. Buku-buku yang barusan dipinjam kawan tapi males mau ngerapihinnya lagi…. dan lain-lain… dan lain lain…..

Ada  saat-saat ketika rumah saya rapi sekali (biasanya kalau Ibu lagi libur ngga ngajar….). Buku-buku di lemari rapi, mainan anak-anak ada di kotaknya dan layak main semua (karena yang ancur2 dah dipisahin n dikeluarin buat mamang tukang sampah), lemari-lemari pakaian rapi, baju-baju yang sudah lama nggak dipakai dipisahin juga dan disedekahkan (dan tibalah waktunya beli baju baru lagi, haha….), halaman rapi, rumput-rumput di pot dicabutin, kolam bersih……

Tapi seringnya sih saya cuek banget, apalagi kalau lagi capek pulang sekolah sore……

Biarin buku acak2an, yang sering malah di bawah tempat tidur saya sampai berbuku-buku (maksudnya bukunya banyak) karena saya bacanya sambil tiduran, dan kalau udah ditaruh bawah tempat tidur….. Buku-buku di shelf juga biarin aja acak-acakan, asal udah diselipin udah aja. Mainan waduh gak tau lagi deh, pokoknya kalau dah masuk kotak udah aja, gak peduli mainannya dah kayak mana modelnya…..

Walaupun sebenernya saya juga nggak ngerjain sendiri bersih2nya (ada si embak dan ponakan), tapi kan kalau saya nggak nyuruh gak begitulah….. harus ada monster cerewet dulu baru semua bergerak. Kalau enggak ya bersih2nya sekedarnya aja. Gak nyalahin juga sih, dengan dua orang pemasok rutin keributan dan kekotoran serta kekacauan, plus harus nganter sekolah, plus sekolah (si ses), plus kerjaan lain2, udah bagus banget bisa seperti sekarang.

Jadi ya gitu deh, penampilan meja, rumah, baju, semua tergantung mood………………………

 

ORANG YANG JATUH CINTA DIAM-DIAM

Baca buku Raditya Dika “Marmut Merah Jambu” yang chapter ‘Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam’, wah, ya sedih, ya seneng…… Sedih karena itu gue banget, seneng karena ternyata saya enggak sendirian, haha….

Cuman kalau saya mungkin lebih mengenaskan karena saya perempuan, yang kemungkinan untuk mengungkapkan rasa itu cuman nol koma sekian persen. Walaupun ternyata banyak juga anak laki-laki yang sami mawon juga mentalnya ya….

Di situ Dika menulis, “Orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detil semua informasi tentang orang yang dia taksir ….”. Saya tahu persis jam berapa cowok yang saya taksir itu sampai di sekolah (saya ceritain yang paling parah aja ya, soalnya saya gak cuman sekali mengalaminya, haha….), baju kemeja lama atau baru yang dipakai hari itu, berapa kali dia keluar kelas hari itu (kelas kami bersebelahan, dan saya sengaja cari tempat duduk yang paling strategis, yang dengan keadaan pintu terbuka sekecil apapun saya bisa memantau keadaan di luar, dus tau kapan dia keluar kelas, entah ke kantin, ke kantor TU atau ke kamar mandi, yang sangat kebetulan sekali posisinya pas di depan kelas saya (tapi jaraknya gak sampai membuat baunya nyampai ke kelas lho, catat itu…. 😉 ) di mana dan dengan siapa dia menunggu angkot pulang sekolah. Saya tahu kalau bagian dalam jari telunjuk dan ibu jari dia agak kuning (yang katanya menunjukkan kalau orang ybs merokok (!!) tapi dasar loph is blainndhhhh….. pokokna mah semua yang di dia bagus semua aja…… Saya tahu nama bapaknya (padahal buat apa coba?) dan merasa bangga sekali ketika suatu hari berkesempatan sekali dalam seumur hidup masuk ke kelasnya dan menemukan surat izin darinya di meja guru. Dari situ saya baru tahu ejaan namanya yang bener (soalnya namanya susah). Saya seneng setengah mati ketika suatu hari pada saat dia pelajaran menggambar, mereka melakukannya tepat di depan kelas saya sehingga saya bis puas2 ngeliat dia (biasanya cuman sekilas2 aja). Pokoknya kalau sekarang dipikirin aduh norak banget and menjijikkan deh. Saya bahkan  menyimpan foto copy (baca: foto copy, bukan foto!) foto dia di lembar bekas ujian Pra-Ebtanas (sekarang mah try out UN namanya). Di situ yang keliatan cuma rambut n matanya doang karena kualitas fotocopyannya poor banget, tapi bagi saya udah lebih dari cukup karena image dia dah lengket di otak.  (eh kalau nggak salah sampai sekarang kertas itu masih ada lo, tapi lupa naruhnya di mana….) Saya tahu baju dan celana warna apa yang dipakainya ketika wisuda…… Yang paling mengenaskan dari semua fakta yang saya tau tentang dia adalah……. dia sama sekali tidak tau siapa saya!! He even didn’t know that I existed. Kasian banget kan? Mungkin dia tau sih, karena kawan2 suka ngeledekin dia, tapi mungkin dia menganggap saya tak lebih dari nyamuk pengganggu atau marmut, makhluk ngga penting yang hampir tidak keliatan……..

Nemu Teman Lama (lagi!)

Ketemu teman lama yang udah delapan belas tahun (baca: delapan belas tahun!!) pisah? Umur aja ‘baru’ tiga puluh empat tahun. Jadi pisahnya ama umur ketika pisahnya tuaan pisahnya, …… 😀
Dia ini temen SMP. Bukan temen sih…. apa ya bilangnya. Dulu pernah kenal ama dia, pas ada salah satu event sekolah waktu kelas 2 SMP. Kami ngobrol waktu itu, seru!! Dia enakeun diajak ngobrolnya. Semua kami omongin.
Abis itu udah. Gak pernah ada alasan atau moment yang membuat kami bertemu lagi. Ketemu sih, tapi paling ketika dia atau saya lewat di depan kelas masing-masing.
Nah, gak tau bagaimana awalnya, gak ada ujan gak ada angin, kawan-kawan tiba-tiba suka ngeledekin saya, ‘eh, dapat salam dari si A’ gitu. Saya bingung mau bereaksinya. Pengalaman pertama gitu loooooch….. 😉 Gimana ya? Mau bales salamnya takut (atau malu, atau dan lain-lain, bingung dah), mau gak bales gimana….
Jadi ya gitu deh pokoknya mah…. Bingung ngomonginnya…. jadi sampai kami lulus SMP, saya tetap dalam kebingungan bersikap tersebut (halah lebay!!). Walaupun waktu itu saya belum mengenal Islam yang bab melarang pacaran, tapi kayaknya saya dah mikir gini…’kalau saya bilang iya, tar kami pacaran… emang mau buru2 kawin?’
Trus luluslah kami dari SMP tercinta. Kami pun pisah sekolah. Trus nggak ketemu-ketemu lagi. Terakhir ketemu pas kelas 2 SMA, kalau gak salah dia datang ke kost-an saya ngundang ke ultah dia ke 16 atau 17 gitu. Saya bingung lagi. kalau saya dateng takut dianggap ngasih harapan (Ge-eR banget ya….) karena ternyata prinsip saya waktu itu masih sama, mau lah pacaran kalau dah deket2 mau kawin gitu…. 😀
Kayaknya mungkin redaksi saya yang gak bagus waktu itu (saya memang gak pinter memilih kata), terus mungkin dia tersinggung atau apa, sampai terucap begini (via surat kalau gak salah)….’ya udah, sampai ketemu lagi nanti di surga!!’ Beh!! Sempet merasa bersalah juga waktu itu, tapi gak tau bagaimana bersikap yang benar.
Trus gak pernah dengar kabar apa2 lagi dari atau tentang dia.
Eh, gak sengaja, sekitar dua minggu yang lalu, saya search nama dia di fb. Ada!! saya add, beberapa hari kemudian di-confirm. Ketemu lagi deh! ngobrol2 lagi seru. Lucu!! ada2 aja ya hidup ini.