ORANG YANG JATUH CINTA DIAM-DIAM

Baca buku Raditya Dika “Marmut Merah Jambu” yang chapter ‘Orang yang Jatuh Cinta Diam-diam’, wah, ya sedih, ya seneng…… Sedih karena itu gue banget, seneng karena ternyata saya enggak sendirian, haha….

Cuman kalau saya mungkin lebih mengenaskan karena saya perempuan, yang kemungkinan untuk mengungkapkan rasa itu cuman nol koma sekian persen. Walaupun ternyata banyak juga anak laki-laki yang sami mawon juga mentalnya ya….

Di situ Dika menulis, “Orang yang jatuh cinta diam-diam tahu dengan detil semua informasi tentang orang yang dia taksir ….”. Saya tahu persis jam berapa cowok yang saya taksir itu sampai di sekolah (saya ceritain yang paling parah aja ya, soalnya saya gak cuman sekali mengalaminya, haha….), baju kemeja lama atau baru yang dipakai hari itu, berapa kali dia keluar kelas hari itu (kelas kami bersebelahan, dan saya sengaja cari tempat duduk yang paling strategis, yang dengan keadaan pintu terbuka sekecil apapun saya bisa memantau keadaan di luar, dus tau kapan dia keluar kelas, entah ke kantin, ke kantor TU atau ke kamar mandi, yang sangat kebetulan sekali posisinya pas di depan kelas saya (tapi jaraknya gak sampai membuat baunya nyampai ke kelas lho, catat itu…. 😉 ) di mana dan dengan siapa dia menunggu angkot pulang sekolah. Saya tahu kalau bagian dalam jari telunjuk dan ibu jari dia agak kuning (yang katanya menunjukkan kalau orang ybs merokok (!!) tapi dasar loph is blainndhhhh….. pokokna mah semua yang di dia bagus semua aja…… Saya tahu nama bapaknya (padahal buat apa coba?) dan merasa bangga sekali ketika suatu hari berkesempatan sekali dalam seumur hidup masuk ke kelasnya dan menemukan surat izin darinya di meja guru. Dari situ saya baru tahu ejaan namanya yang bener (soalnya namanya susah). Saya seneng setengah mati ketika suatu hari pada saat dia pelajaran menggambar, mereka melakukannya tepat di depan kelas saya sehingga saya bis puas2 ngeliat dia (biasanya cuman sekilas2 aja). Pokoknya kalau sekarang dipikirin aduh norak banget and menjijikkan deh. Saya bahkan  menyimpan foto copy (baca: foto copy, bukan foto!) foto dia di lembar bekas ujian Pra-Ebtanas (sekarang mah try out UN namanya). Di situ yang keliatan cuma rambut n matanya doang karena kualitas fotocopyannya poor banget, tapi bagi saya udah lebih dari cukup karena image dia dah lengket di otak.  (eh kalau nggak salah sampai sekarang kertas itu masih ada lo, tapi lupa naruhnya di mana….) Saya tahu baju dan celana warna apa yang dipakainya ketika wisuda…… Yang paling mengenaskan dari semua fakta yang saya tau tentang dia adalah……. dia sama sekali tidak tau siapa saya!! He even didn’t know that I existed. Kasian banget kan? Mungkin dia tau sih, karena kawan2 suka ngeledekin dia, tapi mungkin dia menganggap saya tak lebih dari nyamuk pengganggu atau marmut, makhluk ngga penting yang hampir tidak keliatan……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s