THE LIGHT OF MY EYE


Barusan baca salah satu artikel di Reader’s Digest (yang tua2 itu lagi. tapi bener, ternyata banyak sekali hal-hal baru dan patut direnungkan dari buku2 yang telah menguning itu. ini salah satu di antaranya)

Judulnya “The Light of My Eye”

Ceritanya tentang seorang laki-laki instruktur renang di sebuah sekolah militer di China tahun 70-an. Sudah tiga tahun terakhir mata kanannya ter-inflamasi (bahasa indonesianya apa ya, kalau bilangnya terbakar ga enak ya), istilah kedokterannya kena keraritis di kornea.Kemungkinan dia terkena keraritis dari air kolam renang.

Setahun kemudian, dia mendapat kabar kalau kornea matanya bisa diganti dengan cara transplantasi. Begitu dia memberitahu istrinya tentang hal itu, istrinya memberikan semua uang tabungannya ($500) dari hasilnya menabung bertahun-tahun.

“Kalau uang itu tidak cukup, saya akan mencarikan kekurangannya,” kata istrinya. “Kamu tidak seperti  saya. Orang buta huruf tetap buta walaupun dia melihat. tetapi orang yang bisa membaca memerlukan kedua matanya.”

Lalu laki-laki itu pun masuk ke daftar ‘waiting list’ dr. Chou Taohsiang, dokter yang menanganinya sebelumnya. Sebulan kemudian, dokternya menelepon dan mengatakan bahwa ada seorang sopir yang meninggal karena luka parah dalam kecelakaan. Tapi sebelum meninggal, ia berpesan agar istrinya menjual bagian tubuhnya untuk membiayai anak-anak mereka. Iastrinya menjual mata suaminya dengan harga $250 per mata. Dia menyetujui tawaran itu.

Sedangkan biaya operasi dan rumah sakitnya sekitar $200 lagi.

Keesokan harinya dia sudah bisa masuk rumah sakit untuk memulai prosedur operasi.

Dia merasa sangat beruntung. Orang lain bisa bertahun-tahun menunggu tersedianya donor mata, dan dia juga berterima kasih kepada istrinya karena dengan uang tabungannya, operasinya bisa dilakukan lebih cepat.

Ketika dia didorong menuju ruang operasi, anak gadisnya berbisik di telinganya “Semua baik-baik saja, Papa. Mama ingin datang, tapi dia takut.”

“Ya sudah, tidak apa-apa. Bilang sama Mama tidak usah datang. Papa baik-baik saja, tidak usah khawatir.”

Trus ceritanya flash back……. ke waktu ketika dia pertama kali bertemu dengan  istrinya………………

Dia menikah dengan istrinya karena dijodohkan. Orang tuanya dan orang tua (calon) istrinya pernah bersepakat bahwa kalau mereka punya anak laki-laki dan perempuan maka akan dinikahkan (kayak orang2 kita jaman dulu juga gitu khan….)

Ketika itu dia berumur 19 tahun. Dia sama sekali belum pernah bertemu calon istrinya sebelum pesta pernikahan. Ketika sang istri diantar ke kamar pengantin dan dia membuka cadarnya (kan pengantin cina, kayak yang kita di film2 tuh, pakai cadar kalau jadi pengantin), dia sangat terkejut ternyata istrinya itik buruk rupa, lebih mengerikan dari cinderella (eh kalau itu mah cakep ya…), pokokna mah kitu dah….. Ugly and hideous, jauh di bawah standar KKM kecantikan wanita cina jaman itu deh….

Dia sangat kecewa dan sama sekali tidak mau bicara dengan istrinya. Apapun yang dikatakan ibunya untuk membujuknya (bahwa istri yang mukanya rumahan tuh membawa hoki, kalau cantik mah banyakan bawa sial, bahwa dia harus menerima takdir yang telah tertulis, dll, dll….) tidak ada yang membuat hatinya tergerak. Waktu itu dia masih sekolah. Jadi dia kembali ke sekolahnya, tidak pernah pulang walaupun liburan sekolah kalau tidak akhirnya dijemput paksa oleh keluarganya.

Ibunya berkata, “Nak, kamu jangan begitu keras padanya. Dia memang berwajah buruk, tapi hatinya mulia bagai emas. Selama enam bulan ia kamu tinggalkan dan tinggal di rumah ini, tidak sekalipun ia pernah mengeluh tentang perlakuanmu padanya. Dia berangkat bekerja dari pagi sampai malam di dapur dan di penggilingan. Tidak pernah Ibu mendengar dia menangis sekalipun. Tapi Ibu tahu pasti ia menangis dalam hatinya. Apa kamu mau dia selamanya hidup seperti janda, padahal dia punya suami? Coba tempatkan dirimu di tempatnya.”

Sejak itu dia sekamar dengan istrinya, tapi perasaannya terhadap istrinya tidak berubah.

Sampai tiga puluh tahun perkawinan mereka, jarang sekali ia mau tersenyum pada istrinya, dan tidak pernah ia pergi ke manapun dengan istrinya. Bahkan, sering sekali dia berharap istrinya meninggal supaya ia tidak perlu malu lagi.

Tapi istrinya benar-benar memiliki kesabaran dan cinta yang luar biasa. Ketika mereka baru pindah ke Taiwan dan gajinya sebagai tentara rendahan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, istrinya membantu dengan menganyam topi dan tikar jerami untuk menambah penghasilan. Ketika mereka pindah ke daerah pesisir dekat pelabuhan, istrinya membantu dengan membuat jaring ikan, dan ketika pindah ke utara, istrinya belajar mengecat gerabah. Mereka tidak pernah tinggal di asrama tentara, karena dia malu kalau ketahuan kawannya kalau ternyata dia memiliki istri yang buruk rupa (sampai segitunya ya….).

………………………………………….

Sekarang balik lagi ke masa sekarang… (masa sekarangnya si suami maksudnya. ya tahun 70-an itu)

Ketika dalam masa pemulihan setelah operasi dan menunggu perbannya dibuka, anak perempaunnya membawakannya radio untuk merintang-rintang waktu (wah pilihan bahasanya so balai Pustaka ya…). Di saat itulah dia punya banyak waktu untuk merenung, termasuk sikapnya selama ini terhadap istrinya.

Setelah dua minggu, saatnya membuka perban. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Dia berkata bahwa dia ingin mengunjungi kuburan pria yang telah mendonorkan matanya untuk mengucapkan terima kasih.

Operasinya berhasil dengan baik. Seminggu kemudian dia sudah diperbolehkan pulang. Ketika datang menjemputnya, anak perempuannya berkata, “Mama sedang memasak makanan kesukaan papa di rumah, makanya tidak bisa turut menjemput.”

“Mamamu memang istri dan ibu yang baik,” ia mengatakan apa yang selama ini tidak pernah terucap dari bibirnya.

Dia merasa aneh, karena tidak biasanya anak perempuannya begitu pendiam di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Ketika sampai, istrinya sedang keluar dari dapur membawa piring makanan. Begitu melihatnya, cepat-cepat istrinya menunduk. “Kau telah kembali,” gumam istrinya.

“Terima kasih kau telah membuatku bisa melihat lagi…,” katanya. Dia baru menyadari bahwa inilah terima kasih pertamanya pada istrinya.

Tiba-tiba istrinya menangis.  “Sudah cukup hanya sekedar mendengarmu mengatakan itu. Berarti hidupku selama ini tidak sia-sia.”

Anak perempuannya tiba-tiba masuk dan menangis juga. Dia berkata kepada ibunya,”Katakan pada Papa! Biar Papa tahu kalau Mamalah yang telah memberikan kornea Mama buat Papa!!”

“Memang sudah seharusnya begitu,” kata istrinya.

Ternyata istrinya telah menukar mata kirinya dengan mata kanan suaminya yang telah tidak berfungsi itu!! (Jadi sebenarnya yang $250 itu bukan untuk beli mata, tapi untuk operasi tuker mata…)

Golden Flower!” itu juga pertama kalinya dia memanggil nama istrinya, “Kenapa kau melakukan ini?”

“Karena….. karena kau adalah suamiku!”

…………………………………

Subhanallah…… Begitu besar pengorbanan istri untuk suaminya. Kalau saya apa ya yang sudah saya korbankan buat Abang? Adanya juga minta terus, bukannya ngasih…. Maaf bang ya, belum bisa jadi istri yang shalihah…. (LHO!! Kok jadi curcol (curhat colongan) nih…. 😉 !

………………………

Eh, kebetulannya lagi.. (sebenarnya di dunia ini ga ada yang namanya kebetulan ya, semua dah diatur kok… tapi ini bahasa manusianya lah….) tadi pagi saya baca juga note kawan di fb yang sama banget temanya dengan cerita di atas. Cuman kalau di note kawan (judulnya ‘Cinta itu seperti cerpen’) itu, yang buta perempuannya, didonorin ama kekasihnya, tapi begitu dia bisa melihat, dia tidak mau menikahi laki-laki itu (yang dijanjiin akan dinikahinya kalau dia bisa melihat) karena laki-laki tersebut BUTA. Trus si laki-laki pergi sambil bilang “Tolong jaga baik-baik mata saya.” Gak happy ending banget. Tapi yang real mana ya? Mungkin kedua-duanya  ya. Kita sering melihat segala sesuatu dari kemasannya saja. Yang lulus akan bisa melihat hakikat dari apa yang coba ditunjukkan Tuhan untuk menguji kebijakan kita, yang ga lulus ya akan jadi kayak si cewek tadi…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s