DO YOU EVER FEEL THIS….

Pernah nggak, ngerasa ketika kita pernah sangat menikmati dan menyukai sesuatu, apakah itu tempat, suasana, atau kawan-kawan, sampai-sampai kita tidak ingin semua itu berakhir, tetapi ternyata harus berakhir, karena memang semua terus berjalan dan tidak mungkin berhenti, misalnya ketika kita SMP, atau kuliah, nggak mungkin kan kita di situ terus dan nggak lulus-lulus? Kita begitu sedih, merana, kehilangan…. Berkali-kali dalam pikiran dan bayangan kita, kita pengin kembali ke waktu itu, ke suasana itu……tetapi ketika kita punya kesempatan untuk kembali ke tempat itu, bertemu dengan kawan-kawan itu, ternyata semua tidak pernah sama lagi…… Kita kikuk dan nggak tau mau ngomong apa, karena teman-teman yang kita temui sudah nggak sama lagi, begitu juga lingkungan pergaulan dan kerja kita, kursi kita waktu SMP ternyata sekarang jadi kecil dan sempit banget waktu kita dudukin….

Pernah nggak merasa ketika we do not belong to anywhere, merasa seperti anak ilang?

Aku sering. Bahkan ketika sekarang udah ‘tua’, udah berkeluarga, punya anak 2, punya pekerjaan tetap, tapi sering merasa I don’t know what to do, what to say, bosen setengah mati, merasa tidak punya kawan untuk berbagi cerita…. Do we have to always have friends? Why isn’t it okay to just lie down and sleep?

Pernah nggak merasa ketika you are somewhere, but your soul is  somewhere else? When you want to be somebody else?

Aku sering merasa kayak naik sampan di sungai deras, meluncur teruss… dan tak pernah bisa kembali. Aku selalu bertemu teman-teman baru dan kehilangan teman lama. Ketika SD, aku punya teman yang (menurutku) best friends, tetapi ketika SMP karena berbeda kelas akhirnya saling menemukan teman baru, jadi ketika ngumpul di rumah (rumah kami berhadapan) pun yang diomongin udah nggak nyambung. Aku dapat kawan baik yang baru. Ketika lulus SMP, tak satupun dari kawan baikku yang satu sekolah denganku (aku sekolah di SMA yang tergolong paling top di regencyku waktu itu), dan aku begitu merana di awal-awal kelas satu, karena tidak punya temen dan terlalu minder untuk making new ones. Dengan tampangku yang jutek (padahal yang sebenarnya takut dengan lingkungan baru tanpa kawan, makanya gak pernah senyum), lengkaplah sudah kesulitanku mendapatkan teman baru. Tapi lama-lama dapat juga, dua anak ‘cupu’ yang lain (yang tadinya aku benci dan dia juga sebel bener sama aku). Mereka berdualah ‘juru selamat’ku, yang ngenalin aku pada Islam, jilbab, dunia pesantren, kerja keras, birrul walidain, de el el. Thanks a lot to them.

Ketika kuliah, aku jadi manusia tukang ’nebeng’. Alhamdulillah, nebengnya untuk hal-hal yang baik. Nebeng jadi anak PMII (padahal I knew nothing about the organization before I joined it), nebeng ngaji, nebeng kenal orang-orang sholeh n pinter n keluaran pesantren, nebeng ngajar TPA (padahal harusnya aku jadi salah satu di antara para santrinya), nebeng dikenal sebagai salah satu orang baik (padahal mah jauuuhhh…..). Yang aku tebengin Emy. Dialah penyelamatku selama masa kuliah. Penyelamat dari bergenit-genit dengan lawan jenis (dia galak banget untuk masalah yang satu ini), walaupun ternyata dia juga yang menghalangiku menemukan cinta yang seharusnya tidak bertepuk sebelah tangan…..(emang bukan jodoh kaleee…..) Makasih banyak untukmu Mudah, Prie, Emy…. Without you, I wouldn’t be me now…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s